Cuitan Bawa Jonru Ginting Ke Pidana

Kini semakin maraknya ujaran kebencian dengan mudahnya dilontarkan seiring berkembangnya sosial media di Indonesia saat ini, kini pemerintah mengelurkan perintah untuk memperkarakan siapapun pelaku yang menyebar ujaran kebencian di sosial media jika terbukti melanggar Undang-undang ITE, hal ini berakibat kepada masyarakat Indonesia yang semakin tak mengetahui batasan antara hak asasi manusia yang dimiliki untuk bisa mengutarakan pendapat dan argumennya ke muka umum dengan masuk kepada kategori ujaran kebencian yang bisa berakibat ke tindak pidana.

 

Sehingga banyak masyarakat yang tak berani mengungkapkan pendapat ke muka umum dan ada juga masyarakat yang masih belum mengetahui batasan tersebut. Hal inilah yang dirasakan oleh Jonru Ginting, Jonru dianggap telah menyebar kebencian melalui sosial media dan memicu adanya konflik raja poker dengan kicauan yang ditulisnya tersebut.

 

Isi Cuitan Jonru Ginting berdampak pidana

Muannas Al Aidid merupakan orang yang melaporkan Jonru ke polisi diduga menyebar kebencian melalui media sosial, didalam laporannya, Muannas menyertai bukti screenshot postingan yang dilakukan Jonru melalui sosial media miliknya mulai dari Maret sampai Agustus 2017.

 

Muannas menilai jika postingan Jonru banyak memenuhi unsur penyebar ujaran kebencian, salah satu isi cuitan yang ditulis Jonru kurang lebih seperti ini “kita sudah merdeka dari penjajahan Belanda sejak tahun 1945, namun 2017 masih belum merdeka dari penjajahan China”. Menurut Muannas cuitan dari Jonru tersebut bukan sebuah kritikan, melainkan ujaran kebencian, sebab mendorong dan membenturkan agama dengan etnis tertentu.

 

Masih ada cuitan Jonru terkait pemerintahan yang kabarnya mengandung kebencian mengenai tudingan Jonru jika pemerintah telah menyogok PBNU supaya setuju Perppu Ormas. Menurut Muannas ujaran tersebut dampaknya bukan secara individu, melaikan siapa pun bisa bahkan ormas Islam bisa menjadi korban. Sehingga menimbulkan keresahan antara pengurus dengan warga.

 

Bahkan ada juga cuitan Jonru yang menghina presiden Joko widodo, yang mengungkit asal usul presiden Jokowi yang sebenarnya sudah selesai sebab sudah ada keputusan dari Bambang Tri Mulyono di pengadilan negeri Blora. Namun akun Jonru tak sekalipun pernah melakukan permintaan maaf dan klarifikasi. Ujar Muannas.

 

Dalam laporan tersebut, pihak kepolisian menyertai pasal 28 ayat 2 Juncto pasal 45 ayat 2 no 19 tahun 2016 mengenai ITE (informasi dan Transaksi Elektronik) dan Melalui pengacaranya, Jonru Ginting menyampaikan jika seluruh proses hukum terhadap kasusnya akan diserahkan ke pengacaranya.

 

Polisi siap gelar perkara cuitan Jonru Ginting

Polisi akan segera menjalankan gelar perkara tentang laporan yang dilayangkan Muannas terhadap Jonru mengenai ujaran kebencian yang diduga dilakukan oleh Jonru ke berbagai pihak melalui sosial media. Muannas juga menilai jika cuitan yang ditulis oleh Jonru dibiarkan maka ujaran kebencian tersebut bisa memecah Bangsa.

Direktur Kriminal khusus Kombes Adi Deriyan menjelaskan jika pihaknya masih memproses, usai gelar perkara disusul masuknya terkait unsur pidana ataupun tidak nanti akan disampaikan.

 

Saat ini, penyidik masih mempelajari terkait barang bukti yang diberikan Muannas berupa postingan-postingan yang ditulis oleh Jonru. Selain itu, pihak penyidik sudah memberikan 2 orang saksi yaitu Slamet Abidin dan Guntur Romli. Kedua saksi disebut oleh Muannas mengetahui cuitan Jonru.

 

Dokumen-dokumen yang diberikan oleh Muannas kepada pihak penyidik sebagai barang bukti sudah diterima oleh pihak kepolisian dan administrasi juga sudah dibuat oleh kepolisian sehingga sekarang masih dalam tahap proses mempelajari laporan dari yang bersangkutan. Tutup Adi.